Senyum itu membuat hatiku luluh. Sejenak kenakalanku hilang lenyap karena kehadirannya. Keramaian menjadi sunyi senyap. Hilang kesadaran sebagai manusia tak berperasaan. Dia sekuntum bunga yang selalu mekar setiap pagi, bahkan tanpa dihujani sejuk air pun. Karena dia adalah kesejukan. Dia adalah kesejukan… Dia adalah simbol kesempurnaan wanita. Detak organ dalam dadaku yang semakin kencang menambah tidak normal duniaku. Sekujur tubuhku kaku seakan tak bisa bergerak lagi. Sungguh, dia membunuh keramaian di depan mataku.
Dia tersenyum sekali lagi… Semakin hancur hatiku. Hancur karena aku hanya bisa menikmati senyumnya dalam sendiriku. Bola mata indah dihiasi lentik-lentik bulu mata serta halus alisnya, membuat pengetahuanku tentang definisi bulan sirna… Air mukanya menghapus keindahan air terjun Niagara… Kilau sutera tiba-tiba samar oleh kilau tipis bibirnya… Roman wajahnya sungguh sempurna.
Sungguh Tuhan Pemberi nikmat yang baik. Dia siratkan sedikit kesempurnaan pada wanita itu. Kemudian Dia menyemaikan rasa indah itu dalam hatiku kini. Diam dengan senyum yang selalu tersungging dari bibirnya melahirkan taman indah inspirasi tingkat tinggi…
Bunga-bunga mulai memekar, tangkai demi tangkai. Tetesan embun mendefinisikan kesejukan. Kupu-kupu warna-warni menyibak harum mewangi aroma alami. Rerumputan mulai bergoyang pelan karena tertiup angin sejuk sepoi-sepoi bersama awan kabut menyelimuti. Mereka kemudian tertunduk malu. Malu pada sebuah keindahan yang tak pernah mereka alami. Sungguh keindahanmu meruntuhkan keangkuhan bunga, embun, kupu-kupu warna-warni, hijau rerumputan, serta awan kabut.
Sungguh, aku telah jatuh padamu…
(Abraham Maslow)






..::Komentar::..