Peristerahatan yang melelahkan.. Akhirnya aku kembali ke dunia nyata yang sedikit aku sadari ternyata memang penuh abstraksi tak tertebak. Di perhentian itu aku kembali jatuh dalam jurang-jurang realistis dan fragmatis. Menghancurkan ruang-ruang idealisme yang belum sempat mendapati kadar imun yang cukup. Seharusnya aku berpikir dua kali lagi untuk menjelaskan batas-batas pengejewantahan terhadap simbolisasi alur pemikiran ini. Bahwa, untuk seorang teman kita tidak bisa sepenuhnya percaya. Karena teman hanyalah sebatas teman.
Aku merasa tidak kuat lagi jika diperhadapkan dengan persoalan ini. Teman yang aku anggap bisa menjadi seseorang yang bisa aku percaya, seseorang yang bisa aku pegang kata-katanya. Sayangnya, anggapan ku tentangnya tampak tak ’seindah’ kenyataan. Sebenarnya lidah ku sudah kaku untuk mengatakan ‘iye’ kepadanya. Bibirku sudah ngilu untuk melebarkan senyum untuknya. Mungkin ini adalah salah satu kelemahanku. Bahwa membuat mereka melihat raut tidak menyenangkan dari ku, itu sungguh berat. Toh aku pikir tidak ada juga gunanya.
Tapi kali ini beda. Harga diriku dipertaruhkan. Sampai-sampai semua menjadi kacau karena aku harus seolah lari dari kenyataan. Ya, aku memang menghindar. Aku merasa tidak ada lagi yang membuat orang lain percaya tentang diriku. Entahlah, aku sendiri sedikit tidak percaya lagi terhadap ku. Aku berdiri tak tentu arah…
Aku hanya bisa bercerita sedikit tentang galaunya hati, gundahnya perasaan serta risaunya diri. Mungkin ini adalah kelemahanku yang lain. Bahwa untuk menceritakan masalah ku kepada mereka yang ku anggap teman, berat rasanya..
Hufh… setidaknya aku sedikit agak lega. Hari ini menjadi salah satu bagian tersulit dalam hidupku. Berusaha menjadi teman, walaupun sedikit terasa sakit karena mereka. Mungkin itu juga sebuah kelemahanku…
no one can stop you, if you are not stop to try…






0 Tanggapan ke “get back??”