rasa

Menguncup bunga matahari di pagi hari

Mengatup menutup diri di senja hari

Lilitan bunga sedap malam menjalar liar tak tentu tepi

Yang sesuai namanya, hanya sedap di malam hari

Tapi tetaplah indahnya berseri

Air cinta meresap masuk ke celah-celah pori-pori

Membasahi seluruh rongga hati

Jika rasa itu adalah anugerah yang telah terpatri dalam hati

Biarkan dia menjadi indah tanpa disadari

Biarkan dia terkhayalkan tanpa direnungi

Biarkan rasa itu mengalir dan menjadi

Tolong jawab aku atas kebingungan ini

Apakah rasa ini hanya cukup dirasa?

Apakah rasa ini hanya untuk di hati?

Apakah rasa ini hanya menjadi teman bersendiri?

Lalu, apakah rasa ini benar adanya sebagai rasa?

Jika dia hanya cukup dirasa,

Jika dia hanya untuk di hati,

Jika dia hanya teman bersendiri,

Maka, ragukan dia sebagai rasa itu…

Bunga matahari mengungkapkan indahnya dengan kuncup

Bunga sedap malam mengungkapkan harumnya dengan malam

Teamwork is less ‘me’ and more ‘we’

Ada sebuah gambar perahu layar di tengah ombak samudera nan luas, tertempel di dinding kamarku. Di atas langit berawan putih cerah terdapat sebuah kalimat berbahasa inggris : teamwork is less ‘me’ and more ‘we’.

Indah sekali kalimat bijak ini. Bahwa dalam tim, ‘aku’ melebur menjadi ‘kita’. Dalam tim, semua ke’aku’an selayaknya satu dalam ke’kita’an. Dalam tim, ‘kita’ menjadi sebuah tonggak tunggal besar kokoh tak tergoyahkan. Bayangkan saja…

Lalu, apa jadinya jika semangat ke’aku’an menjadi lebih dominan terhadap cita-cita luhur sebuah tim, maka tak ayal lagi sebuah malapetaka akan segera bersinar muncul di hadapan.

Dalam tim, saling mengalah dan menerima ke’aku’an anggota tim adalah kebersahajaan sejati.

Tim adalah merobek egoisme buta, mencabik serta merendamnya bersatu dengan visi perjuangan bersama.

Tim adalah memberi. Memberi yang ‘aku’ punya untuk sebuah perngharapan ‘kita’.

Tim adalah menerima. Menerima apa adanya, dengan segala pertimbangan bijaksana dan penuh nilai-nilai

tanggung jawab.

Tim adalah meleburkan ‘aku’ menjadi ‘kita’.

analogi simbol

09042008.

Senja sore ini indah. Awan putih abu-abu dan langit masih terindah dengan birunya. Aroma tanah sehabis hujan dan hembus angin bergelimang kesejukan manyapa. Tampak hijau rimbun rerumputan. Lampu pijar tak menyala berjejer, dan kelihatan rapi karena terapit oleh lunglai dedaunan pohon palm mengayun. Aku merdeka, bak di dalam syurga.

Tut, tut… tut, tut…

HP ku berbunyi. Kukenali nada itu sebagai tanda bahwa ada satu pesan baru mengisi kotak pesanku.

 

OK, Bos…

Sender:

M02-Lumba

+6281341891345

Message centre:

+62811049815

Sent:

8-Apr-2008

16:52:28   

 

Setelah membaca sms itu, aku mulai menelusuri mozaik-mozaik ilmiah dalam pikiranku. Sedikit lebih dalam, akhirnya aku menemukannya. Inilah mozaik-mozaik itu…

 

Teori himpunan dalam analogi

 

Adalah terori himpunan yang menjadi konsep menarik untuk aku tuangkan dalam tulisan ini. Berbicara tentang teori, dalam ilmu matematika bahkan sains, berarti kita akan berbicara tentang definisi. Tidak seperti dunia kita yang kadang hanya teori belaka, aku menyebutnya teori hampa, tak berisi tak pula bermakna. Mari menyelami dunia matematika yang tak sekedar teori itu…

 

     1.   Definisi Himpunan

Himpunan adalah kumpulan dari elemen-elemen atau unsur-unsur yang keanggotaannya didefinisikan dengan jelas.  

Definisi ini mungkin masih agak kasar untuk orang matematika, tetapi aku belum menemukan definisi yang lebih halus dari definisi tersebut di atas. Aku akan mulai menganalogikan definisi ini kedalam bentuk nyata yang mungkin lebih bisa memahamkan.

Misalkan A = {rustam, luqman, acha}. A disebut himpunan mahasiswa Jurusan Matematika Unhas angkatan 2002 yang masih berjuang untuk mendapatkan identitas (lebih tepatnya, status) baru, S.Si,.

Misalkan B = {yusri, eros, samba, ajif}. B adalah himpunan mahasiswa Jurusan Matematika Unhas angkatan 2004 yang lebih bisa menikmati hidup ketika berada di Asrama Mahasiswa.

Misalkan C = {acong}. C merupakan himpunan mahasiswa Jurusan Matematika Unhas angkatan 2003 yang menjadi anggota KPU KEMA Unhas.

Yusri bukan merupakan elemen himpunan A, disimbolkan sebagai  yusri Ï A.

Luqman adalah elemen himpunan A, disimbolkan sebagai Luqman Î A.

2.   Contoh-contoh himpunan

a. Himpunan bilangan bulat Z = {…, -2, -1, 0, 1, 2, …}

     Definisi di atas sejenak membuat aku berpikir sedikit humanity. Kita adalah bilangan bulat. Aku mencoba menganalogikan tanda negatif dari elemen bilangan bulat ini sebagai sisi-sisi lemah kita. Bahwasanya setiap kita terlahir dengan kekurangan dan kelebihan masing-masing. Jika setiap kali terjadi perubahan pada diri kita, maka ingatlah bahwa kita adalah bilangan bulat. Ada unsur-unsur negatif dan juga unsur-unsur bernilai positif. Maka berbahagialah mereka yang memahami definisi bilangan bulat dengan benar. Dengannya tidak akan ada lagi rasa benci pada diri sendiri akibat kekurangan kita, sebab pasti ada dalam diri kita titik-titik positif itu. Dengannya tidak akan ada lagi rasa kecil hati, iri serta dengki terhadap kelebihan orang lain, karena jauh di sana terdapat mereka yang memiliki kekurangan melebihi kekurangan kita. Dengannya tidak akan ada lagi rasa sombong tersemai dalam hati, sebab jauh di sana terdapat banyak yang melebihi kita dan di dalam diri kitapun ada sejuta kekurangan yang mungkin kita sendiri tidak mengetahuinya.

b. Himpunan bilangan bulat positif Z+ = {1, 2, 3, …}

     Himpunan ini adalah himpunan yang mengandung elemen-elemen positif. Tidak terdapat elemen negatif dalam himpunan ini. Jangankan nilai negatif, bahkan angka 0 pun terhapus dari sombongnya himpunan ini. Tetapi ini adalah kesombongan yang layak diacungi jempol. Aku menganalogikan himpunan ini sebagai himpunan SEMANGAT. Seharusnya semangat kita berada dalam himpunan ini. Semangat untuk hidup, semangat untuk belajar, semangat untuk menjadi… Bagaimana jika kita tidak lagi memiliki semangat untuk belajar? Ini berarti kita berada dalam himpunan bulat non-negatif. Himpunan bulat yang hampir sama elemen-elemennya dengan himpunan bilangan bulat positif, tetapi mengandung unsur 0 di dalamnya; Z-non-negatif = {0, 1, 2, 3, …} (aku belum menemukan symbol untuk jenis himpunan ini).

c. Himpunan kosong, Æ

     Kita bukan himpunan kosong, dengan tingkat kepercayaan 99,99% aku meyakininya. Tetapi bahayanya jika kita menjadi himpunan kosong. Jika itu terjadi, maka tiada guna kita menjadi manusia. Bahkan lebih kasar, mending mati dari pada menjadi himpunan kosong. Kapan hal itu terjadi? Ketika semangat dan gairah untuk hidup itu sudah tidak ada lagi…

 

3.   Operasi pada Himpunan

a)   Penggabungan/union; A È B = {x | x Î A Ú x Î B}

Sedikit lebih teliti untuk menganalogikan definisi ini.

Misalkan   A = {warga angkatan 2004+}

                 B = {warga angkatan 2005}

                 C = {warga angkatan 2006}

                 D = {warga angkatan 2007}

                 E = {konstitusi}

Anggap Himatika adalah Himpunan Mahasiswa Matematika FMIPA Unhas, dengan elemen-elemennya antara lain: warga angkatan 2004+, warga angkatan 2005, warga angkatan 2006, warga angkatan 2007, konstitusi… Dengan kata lain Himatika adalah penggabungan dari himpunan-himpunan A, B, C, D dan E. Secara matematisnya; Himatika = {A È B È C È D È E}.

Sebuah pertanyaan, dari analogi di atas, bagaimana jika terdapat elemen-elemen dari salah satu himpunan (A, B, C atau D) ini yang bukan merupakan warga? Pertanyaan yang tidak seharusnya dilontarkan. Tetapi untuk memberikan sedikit pemahaman, tidak mengapa jika aku menjawabnya. Analogi di atas memperlihatkan dengan jelas tentang makna penggabungan. Jika yang digabungkan adalah himpunan-himpunan yang semua elemennya adalah warga, maka jelaslah bahwa yang tidak termasuk warga bukan merupakan elemen Himatika. Mungkin akan lebih dijelaskan pada operasi-operasi berikutnya…

b)        Irisan/intersection; A Ç B = {x | x Î A Ù x Î B}

Aku tidak punya cukup kemampuan dalam mengambil analogi untuk definisi ini. Biarlah kita kembali pada analogi definisi himpunan.

Misalkan   A = {rustam, luqman, acha},

                 B = {yusri, eros}.

A adalah himpunan mahasiswa Jurusan Matematika angkatan 2002 yang aktif kuliah semester akhir 2007/2008.

B adalah himpunan mahasiswa Jurusan Matematika angkatan 2004 yang aktif kuliah semester akhir 2007/2008

Bagaimana jika dua himpunan ini diiriskan? Sepintas memang agak sulit, tetapi dengan sedikit lebih peka maka kita akan mendapati hasil irisannya    (x dalam definisi irisan adalah matakuliah Analisa Riil). Misalkan C adalah hasil irisannya, maka

C = A Ç B = {luqman, eros}, dimana C adalah himpunan mahasiswa Jurusan Matematika Unhas yang mengambil matakuliah Analisa Riil pada semester akhir 2007/2008. Jelas, kan?

c)        Komplemen; A¢ = {x | x Î S Ù x Ï A}

Komplemen dari himpunan A adalah himpunan yang terdiri dari semua anggota himpunan S yang bukan anggota A. Untuk menganalogikan definisi ini, aku hanya akan melanjutkan sedikit pembahasan tentang operasi penggabungan himpunan. Sederhana saja, jika tidak termasuk warga maka dia termasuk dalam komplemennya. Karena yang menjadi elemen-elemen Himatika adalah gabungan dari himpunan-himpunan yang elemennya adalah warga, maka komplemennya bukan merupakan elemen Himatika. Lebih sederhana lagi, jika diketahui bahwa Himatika adalah Himpunan Mahasiswa Matematika FMIPA Universitas Hasanuddin, maka yang bukan Mahasiswa Jurusan Matematika FMIPA Universitas Hasanuddin tidak termasuk dalam elemen Himatika. Nah, dari sini dapat diambil sebuah analogi cantik untuk komplemen; (Himatika)¢ = {bukan warga, bukan mahasiswa Matematika FMIPA Universitas Hasanuddin}

 

Tidak cukup menganalogikan simbol-simbol matematika  yang begitu kompleks ke dalam kehidupan kita. Tetapi mungkin tidak ada salahnya jika aku mencoba. Jika dalam menganalogi ini terdapat kata-kata atau ungkapan atau simbol yang tak sesuai pemikiran pembaca, mohon kritikannya…

maja labo dahu pu mori di rasa dou

get back??

Peristerahatan yang melelahkan.. Akhirnya aku kembali ke dunia nyata yang sedikit aku sadari ternyata memang penuh abstraksi tak tertebak. Di perhentian itu aku kembali jatuh dalam jurang-jurang realistis dan fragmatis. Menghancurkan ruang-ruang idealisme yang belum sempat mendapati kadar imun yang cukup. Seharusnya aku berpikir dua kali lagi untuk menjelaskan batas-batas pengejewantahan terhadap simbolisasi alur pemikiran ini. Bahwa, untuk seorang teman kita tidak bisa sepenuhnya percaya. Karena teman hanyalah sebatas teman.

Aku merasa tidak kuat lagi jika diperhadapkan dengan persoalan ini. Teman yang aku anggap bisa menjadi seseorang yang bisa aku percaya, seseorang yang bisa aku pegang kata-katanya. Sayangnya, anggapan ku tentangnya tampak tak ‘seindah’ kenyataan. Sebenarnya lidah ku sudah kaku untuk mengatakan ‘iye’ kepadanya. Bibirku sudah ngilu untuk melebarkan senyum untuknya. Mungkin ini adalah salah satu kelemahanku. Bahwa membuat mereka melihat raut tidak menyenangkan dari ku, itu sungguh berat. Toh aku pikir tidak ada juga gunanya.

Tapi kali ini beda. Harga diriku dipertaruhkan. Sampai-sampai semua menjadi kacau karena aku harus seolah lari dari kenyataan. Ya, aku memang menghindar. Aku merasa tidak ada lagi yang membuat orang lain percaya tentang diriku. Entahlah, aku sendiri sedikit tidak percaya lagi terhadap ku. Aku berdiri tak tentu arah…

Aku hanya bisa bercerita sedikit tentang galaunya hati, gundahnya perasaan serta risaunya diri. Mungkin ini adalah kelemahanku yang lain. Bahwa untuk menceritakan masalah ku kepada mereka yang ku anggap teman, berat rasanya..

Hufh… setidaknya aku sedikit agak lega. Hari ini menjadi salah satu bagian tersulit dalam hidupku. Berusaha menjadi teman, walaupun sedikit terasa sakit karena mereka. Mungkin itu juga sebuah kelemahanku…

no one can stop you, if you are not stop to try…

aaaaahhhhhhhhhhh

Tiba-tiba aroma bumi tak lagi berasa, hambar…

Tolong pecahkan kepalaku, hancurkan jantungku, remukkan tulangku..

Karena aku ingin berteriak!

Berteriak sekerasnya, hingga seluruh noda dalam darah keluar dari segenap epidermisku tak bersisa

Andai itu bisa redam semuanya, aku sudah melakukannya sendiri sejak lama…

Sayangnya aku tak kuasa…

Aku rasa Tuhan terlalu adil hingga aku hampir tak menemukan titik keadilan itu

Pertempuran ini entah sampai kapan akan berakhir

Pastinya Tuhan telah mendeklarasikan Diri sebagai Yang Maha Adil

Keniscayaannya adalah, I’m just a human being…

kebersamaan dalam tanda petik

Sebuah prolog

Seperempat abad sudah bangunan itu berdiri kokoh. Sampai pada titik ini, perubahanpun telah banyak terjadi seiring waktu yang seakan tak mau berhenti. Tempatnya berdiri mungkin masih sama. Namanya pun mungkin masih sama. Sungguh tak dirasa, aku masih berdiri di sini dan telah sampai pada titik seperlima usianya. Sungguh sudah terlalu banyak dinamika yang telah terjadi di sini. Tetapi biarlah sejarah menyimpannya dengan sangat tersembunyi; bersama semangat, bersama keringat, bersama manis pahitnya. Karena tidak ada yang lebih tahu…
Senja bersama hujan hari ini membawa kedamaian tersendiri. Di antara hati hati yang tak peduli, aku mengasingkan diri dan mulai bermimpi. Bermimpi tentang suatu masa dimana semua menjadi dan terwujudkan. Tiba-tiba serpihan memori yang tersusun tak rapi itu membeku terserap dingin hujan sore ini. Dan keanehan pun terjadi. Satu serpihan yang ikut membeku itu kemudian memberontak. Memberontak menuntut merdeka, bebas. Dan merdekalah ia, KEBERSAMAAN…

Sebuah definisi

Ini bukanlah sebuah keharusan nihil, konyol tanpa isi. Ini adalah keniscayaan, karena untuk memulainya, pembahasan tentang definisi menjadi pra-syarat mutlak. Apalagi bagi kita manusia-manusia pembelajar. Bukan pula masalah yang enteng untuk menyelesaikan definisi dari kebersamaan, karena seluruh hakekatnya berada dalam ranah ini…
Aku memulainya dengan mencoba menelaah dari tinjauan etimologi. Aku mungkin bukan orang yang terlalu paham dalam masalah tata bahasa. Aku tidak sempat membaca Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), karena memang aku tak memilikinya. Kamus untuk mempelajari bahasa bangsa sendiri pun harus dibeli dengan taruhan harus berpuasa sepuluh hari pada akhir bulan. Yang pasti, aku masih orang Indonesia. Ya, ini Indonesia Bapak…!

Kebersamaan, berasal dari kata bersama. Bersama, berasal dari kata dasar sama. ini adalah wilayah etimologis ku. Aku lebih suka beranalogi untuk memahamkan.
Jika dikatakan : “Kita memiliki tujuan yang sama.”, maka tidak ada tawar menawar lagi bagi ruang yang bernama kita untuk membuat tujuan lain dalam hal ini. Benarkah?
Misalkan himpunan yang bernama kita terdiri dari A, B dan C. Misalkan tujuan A dalam hal ini adalah X, maka kalimat tersebut di atas mengindikasikan bahwa tujuan B dan C dalam hal ini juga adalah X. Bagaimana jika ada tujuan B dalam hal ini selain X (katakanlah Y)? Apakah B masih bisa dikatakan memiliki tujuan yang sama dengan A dan C? jawaban ku adalah : ya, B masih bisa dikatakan memiliki tujuan yang sama dengan A dan C jika dan hanya jika Y tidak saling kontradiktif dengan X!
Satu pemisalan lagi. Jika dikatakan oleh X : “A dan B sama indahnya”, maka dari definisi kata sama dalam wilayah etimologis ku berarti indah yang dimiliki A adalah sama dengan indah yang dimiliki B. Bagaimana jika indah A tidak sama dengan indah B menurut kacamata Y? Masihkah A sama indahnya dengan B? Ya, jika dilihat dari kacamata X. Setidaknya, X punya standar tersendiri dalam ranah keindahannya. Jika Habiburrahman dalam pudarnya pesona Cleopatra menelurkan sebuah kalimat : “Ini masalah selera”, maka dalam hal ini benar adanya…
Aku mulai mengintegralkan kata sama, dan salah satu solusi pengintegralannya adalah kata bersama. Bersama berarti tidak sendiri. Bersama berarti bersama. Sebuah analogi mungkin bisa sedikit memahamkan. Jika dikatakan : “Masalah itu mereka selesaikan bersama”, maka terlihat jelas bahwa yang menyelesaikan masalah itu adalah mereka, bersama. Mungkin hampir sama dengan kata sama. Tetapi sedikit agak kompleks.
Misalkan himpunan mereka terdiri dari A, B dan C. dari kalimat tersebut di atas, A menyelesaikan masalah itu bersama-sama dengan B dan C. Pertanyaan yang muncul kemudian, apakah dalam menyelesaikan masalah itu A harus berada dalam tempat yang sama dengan B dan C? Apakah B harus berada pada titik waktu yang sama dengan A dan C? Apakah C dalam menyelesaikan masalah itu harus melakukan proses yang sama dengan proses yang dilakukan oleh A dan B?
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas, akan diperlukan pendekatan dialogis. Tetapi biarlah aku angkuh kali ini…
Pertanyaan pertama berkaitan dengan tempat. Pertanyaan kedua berkaitan dengan waktu. Pertanyaan ketiga berkaitan dengan proses. Menarik. Jawabanku atas pertanyaan-pertanyaan itu adalah TIDAK. Adalah tidak harus A berada di tempat yang sama dengan B dan C untuk menyelesaikan masalah itu. Adalah tidak harus B berada pada waktu yang sama dengan A dan C untuk menyelesaikan maslah itu. Adalah tidak harus C melakukan proses yang sama dengan A dan B untuk menyelesaikan masalah itu.
Kasus yang lain; jika dikatakan “kita tinggal bersama di sini”. Ini berarti unsur-unsur yang berada dalam himpunan kata kita tinggal dalam tempat yang sama, menghabiskan sebagian besar waktu secara bersama, melakukan sebagian besar proses yang sama, di sini.

Sedikit konklusi

Aku sudah sampai pada sebuah titik konklusi. Jika kita integralkan kata terakhir itu, maka akan didapati kata baru; KEBERSAMAAN. Satu kata yang akan lebih mudah jika kita telah pahami hakikatnya. Dari definisi yang telah diberikan terdahulu, aku hanya akan mencoba melakukan proses union.
Bahwa dalam kebersamaan tidak selalu harus bersama
Bahwa dalam kebersamaan tidak selalu harus semasa secara simultan
Bahwa dalam kebersamaan tidak selalu harus dalam proses yang sama
Bahwa dalam kebersamaan pada suatu keadaan tertentu harus selalu bersama
Bahwa dalam kebersamaan pada suatu kondisi tertentu harus dalam masa yang simultan
Bahwa dalam kebersamaan pada suatu waktu tertentu harus selalu berproses yang sama
Cukuplah kebersamaan itu menjadi kebersamaan itu sendiri. Karena dia dirasa, tidak dipaksa. Maka biarkan dia merdeka, biarkan dia lepas bebas… Karena tidak ada yang lebih tahu…

Jika hari ini dan di sini telah terjadi sebuah perubahan, pastikan itu terjadi oleh tangan-tangan kita; BERSAMA dan SADAR

Pondok Aspul, 11 April 2008

surat buat IBU…

Bintang malam ini terasa berbeda. Dalam pelukan malam, desiran angin menetapkan kesunyian. Tak ku nikmati malam ini jika tiada bulan bercengkerama di atas langit hitam malam ini. Berbahagialah aku, karena bulan dengan semerbak cahayanya menemani. Seakan dia pahami kerinduan ini.
Entah kenapa malam ini tiba-tiba aku rindu pada sosoknya. Sosok yang tak kan pernah asing untuk selamanya. Dialah ibu. Aku rindu. Rindu yang tak pernah aku rasakan sebelumnya. Mungkin aku telah sangat berdosa padanya, hingga Tuhan menyemai rindu yang luar biasa ini. Akhirnya kerinduan ini hanya bisa aku tuangkan melalui surat buat IBU…

Wahai yang penuh kasih,
Sudah sekian lama aku tidak merasakan keharuman aroma telapak kakimu
Sudah sekian lama aku tidak mendengarkan dialog surga dari lembut suaramu
Sudah sekian lama aku tidak merasakan kehangatan firdaus dalam pelukanmu
Sudah sekian lama aku tidak mencicipi makanan terlezat di dunia, hanya buatan tanganmu
Sudah sekian lama aku tidak menikmati memandangi wajah lelap tidurmu
Sudah sekian lama aku tidak merasakan damai kecupan cinta dari bibirmu
Sudah sekian lama ibu…

Ibunda, aku telah sangat berdosa padamu
Ketika nasehatmu tak lagi aku jadikan pegangan hidup dan hanya menjadikannya kata-kata amanah yang lewat begitu saja
Aku sudah sangat berdosa padamu
Ketika ingatanku tentang lembut belaimu tak lagi aku jadikan sebagai pemicu semangat dan hanya menjadi ingatan sesaat kemudian hilang begitu saja
Aku sungguh berdosa padamu
Ketika kepercayaan yang kau titip itu hanya aku jadikan tameng atas kebohongan dan dustaku belaka. Karena kepercayaan itu hanya aku jadikan topeng kemunafikanku semata

Aku berdosa padamu, ibu
Karena pengorbananmu selama ini hanya aku jadikan sebagai bahan renungan dan aku bersenang-senang lagi setelahnya. Aku berfoya-foya lagi sesudahnya.

Duhai yang tercinta,
Sudah terlalu sering aku mengecewakanmu
Membuat semuanya tak sesuai keinginanmu
Membuat semuanya berantakan karena keegoisanku
Sudah terlalu sering aku melupakanmu
Bahkan pada saat-saat aku harus mengingatmu, aku terlupa padamu oleh nafsuku
Sudah terlalu sering aku membuatmu meneteskan air mata
Ketika inginmu aku bantah
Ketika mintamu aku acuhkan

Duhai yang mengandungku,
Jika besok atau lusa aku bertemu denganmu, ijinkan aku meminta…
Tampar muka ku yang kian bengal ini dengan tangan lembutmu
Injak kepala ku yang kian congkak ini dengan telapak kaki surgamu
Maki telingaku yang kian tak peka ini dengan lembut indah suaramu
Karena aku sungguh telah berdosa padamu,
Aku sungguh telah berdosa padamu

Duhai yang melahirkanku,
Aku tidak pernah bisa bermimpi akan menjadi apa aku ini,
Jikalau kau tidak pernah bermimpi akan menjadi apa anakmu ini nanti
Aku tidak pernah bisa memaafkan diriku ini,
Jikalau kau tidak bisa memaafkan diriku yang hina ini
Karena mimpi dan kemaafan-mu lah aku memulai dan bertahan hidup
Karena mimpi dan kemaafan-mu lah aku menjadi

Duhai Bunda tersayang,
Walaupun aku tahu bahwa maafmu selalu ada untuk ku tanpa syarat
Tetapi itu belum cukup membuatku tenang
Maka hari ini aku memohon padamu, ibu
Maafkan aku,
Maafkan atas segala khilaf dan dosa
Dan aku pertaruhkan nyawa untuk maafmu, ibu…

 

Jika Tuhan mengijinkan ada Tuhan lain selain-NYA,
maka tidak ada yang lebih berhak selain IBU…

*) untuk mereka yang sadar ataupun tidak sadar terlupa akan kemuliaan seorang ibu

Pondok Aspul, 04 April 2008


..::Principia::..

elsila

Titik kebahagiaanku bukan terletak pada apa yang aku rasakan, tetapi apa yang mereka rasakan...

..::Kalender::..

Desember 2016
S S R K J S M
« Agu    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

..::Arsip Tulisan::..

..::My Favorite Links::..

Ini adalah Link-link Favorit ku, semoga bermanfaat... Selamat menyelami..

-Shaykh Mishary Rasyid Alafasy-

Shaykh Mishary Rashid

-Orang Indonesia-

http://iwanfalsmania.blogspot.com

-Free Programming Tutorials-

free tutorial programming

-Free Software Download-

free software download

..::Tutorial Blog::..

Cara Membuat Blog di WordPress.com

..::Statistik Blog::..

page daily hits