Si penjual Jalangkote

jalkot.jpg Pagi ini tiada mendung. Langit mulai menampakkan keceriaan setelah beberapa hari terakhir murung mendung. Suasana kampuspun kembali hidup. Bagi mereka, suasana seperti ini adalah hidupnya. Beberapa orang mahasiswa begitu sibuk mengurusi administrasi kelengkapan wisuda. Yang lain masih sibuk dengan praktikum, laporan dan respon masuk laboratorium tak lepas dari gaya mereka. Sebagian yang lain tetap saja menikmati secangkir kopi, sekotak teh manis, dan kepulan asap rokok. Begitulah kehidupan kampus bagian MIPA Universitas Hasanuddin selasa kemarin. Aku hampir lupa, ada beberapa orang yang tidak bergantung pada keadaan matahari dan hujan dalam menyibukkan diri mereka. Ya, mereka adalah cleaning service. Dengan alat pelnya mereka menikmati pekerjaan itu, mondar mandir sambil melap keringat yang juga sibuk membasahi dahinya. Walaupun mungkin dalam lubuk hatinya terdapat bercak-bercak malu atas pekerjaan mereka. Tapi itu hanyalah prasangka ku…
Pandangan ku tertuju pada sesosok tubuh dengan pakaian agak kumal dengan sandal yang mereknya pun sudah tidak terbaca lagi, motifnya bak papan catur. Senyum nya menghiasi roman imut tak berdosa itu. Rambutnya kelihatan tak pernah di shampoo, dengan gelang-gelang anak metal di bagian kiri dan karet-karet kusut di bagian kanan.
“halo, bang!!” sapa nya.
“jalangkote, bang??” sambungnya.
“duh, bagaimana nih partner? Aku sudah makan tadi.” Jawabku.
Memang jam sudah menunjukkan pukul 14 lewat. Sudah lewat pula waktu makanku.
“kau terlambat partner…”
“sekedar cuci mulutlah bang..” dia memelas mengharap jualannya laku.
Sambil membuka tutupan keranjang jualannya dia terus menggodaku. Karena dia tahu sekali kalau aku penggemar kue yang satu ini. Entah kenapa, sebenarnya aku tak terlalu suka. Mungkin karena gaya dan caranya menawarkan jualannya hingga hampir tiap hari tak bias kulewatkan siangku tanpa jalangkote nya. Ya, hanya jalangkote nya. Aku suka!..
Sedikit terpaksa, aku mengambil kue itu. Bukan terpaksa karena aku tidak mau membeli kuenya, tetapi aku memang sudah kenyang…
“satu saja, ok?” tanyaku menggoda keinginan hatinya yang selalu berdo’a agar jualannya segera laku dan habis terjual. Dan aku tidak mungkin membeli hanya satu saja, lima ratus perak satu biji kue, karena aku dermawan… (he..he…)
“ya, ga apa-apa” jawabnya sedikit pasrah.
Jalangkote nya memang enak luar biasa bagiku. Entah kenapa. Aku pernah bertanya tentang hal ini kepadanya, dengan polos dan sedikit bercanda dia menjawab
“ibuku mencampur ganja dalam kue itu, sehingga satu kali makan langsung ketagihan” sambil melebarkan senyum manisnya.
Namanya Akbar. Sosok kecil duduk di bangku sekolah, entah dasar atau menegah pertama, aku lupa. Sosok yang dengan tidak sadar tengah berjuang melawan fatamorgana dunia. Dia adalah pahlawan kecil yang juga dengan tidak sadar mencoba membangun hidup. Yang tak pernah berpikir apa yang akan terjadi hari esok. Karena yang dia tahu esok adalah teman setianya menjajakkan jualannya. Satu yang masih mungkin baginya untuk esok, apakah dia akan ke sekolah bertemu teman-teman sepermainan dengan keceriaan tersendiri? Dia tidak pernah bermimpi dan bercita-cita. Yang dia tahu adalah, jalangkote ini harus habis terjual… hidup memang tak selalu seindah yang kita impikan. Selamat berjuang, kawan. Kelak, kau akan tahu betapa nikmat hidup dari perjuangan…
“Jangan lihat masa lampau dengan penyesalan; jangan pula lihat masa depan dengan ketakutan; tapi lihatlah sekitarmu dengan penuh kesadaran”
(James Thurber)
Pondok Aspul, 14 Januari 2008

0 Responses to “Si penjual Jalangkote”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




..::Principia::..

elsila

Titik kebahagiaanku bukan terletak pada apa yang aku rasakan, tetapi apa yang mereka rasakan...

..::Kalender::..

Januari 2008
S S R K J S M
« Des   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

..::Arsip Tulisan::..

..::My Favorite Links::..

Ini adalah Link-link Favorit ku, semoga bermanfaat... Selamat menyelami..

-Shaykh Mishary Rasyid Alafasy-

Shaykh Mishary Rashid

-Orang Indonesia-

http://iwanfalsmania.blogspot.com

-Free Programming Tutorials-

free tutorial programming

-Free Software Download-

free software download

..::Tutorial Blog::..

Cara Membuat Blog di WordPress.com

..::Statistik Blog::..

page daily hits

%d blogger menyukai ini: