Cita-cita seorang ibu

roti.jpgHujan masih mendominasi cuaca Indonesia bagian Sulawesi selatan. Sore melunglai tak berdaya oleh suara rintik yang tak henti-henti. Becek dan jipratan air menjadi pandangan menarik bagi hujan. Bagaimanapun keadaannya, kewajiban untuk menghadap Dia tiada surut walaupun dengan susah payah menerobos kebasahan.
Mushalla itu memang selalu ramai dipenuhi penyembah Tuhan Yang Satu, dari mahasiswa, dosen, pegawai administrasi sampai penjaga kebersihan. Mahasiswa dari fakultas-fakultas bagian barat dan timur (MIPA, TEKNIK, SASTRA) Universitas Hasanuddin serta sebagian dari fakultas sekitarnya berbaur dalam kekhusyu’an sore itu.
Salah satu kondisi yang menjadi kejadian rutinitas, pinjam meminjam alas kaki. Sebagian besar mahasiswa itu memakai sepatu, sehingga mereka yang tidak memakai sepatu (bukan tidak memiliki sepatu) harus rela meminjamkan alas kaki mereka, ikhlas atau tidak. Karena diantara alas kaki itu, ada yang bermerek luar biasa. Mereka yang tidak
pakai alas kaki selain sepatu, harus lebih rela mengantri menunggu “kekosongan kekuasaan” sementara. Begitulah…
Setelah dengan khusyu’ menyembah-Nya, suasana menjadi tenang. Kemudian terdengar suara takbir di belakang sana. Mereka yang baru menyelesaikan nomor antriannya mengambil posisi membentuk jama’ah sendiri. Mereka, jama’ah pertama, sedikit demi sedikit mengundurkan diri dari kekhusyu’an dzikir dan do’a. Jajanan seperti donat dan
berbagai macam roti yang tersusun rapi dalam raknya mejadi obat penghilang lapar…
Di sudut mushalla itu, terlihat seorang ibu paruh baya dikelilingi rak roti dan sebuah keranjang besar berisi nasi bungkus tertidur. Tampaknya ibu dengan sandal jepit swallow berwarna hijau itu kelelahan karena kesibukan menjajakan jualannya. Dia bersandar layu pada dinding pembatas mushalla yang hanya terbuat dari tripleks. Ibu malang itu tiba-tiba terjaga dari nikmatnya istirahat. Seorang jama’ah dengan tidak sengaja terbentur pada dinding pembatas itu. Tampak sedikit kekesalan pada wajahnya yang mulai mengeriput. Tapi dia hanya bisa pasrah pada ketidak-adilan sosial yang telah
merenggut cita-citanya untuk hidup layak dan sejahtera.
Aku kagum pada ibu ini. Walaupun cita-cita untuk dia mendapatkan kehidupan yang layak, dia tetap mencoba mengais rejeki dengan semangat dan pandang cuaca. Aku kagum, karena meski dia harus bergadang semalam suntuk hingga subuh untuk mempersiapkan segala macam jualannya, dia dengan penuh kesabaran tetap bekerja membanting tulang karena cita-cita untuk hidup sejahtera kini tergantikan oleh cita-cita baru yang sederhana : “daganganku harus habis terjual, agar anak-anakku bisa melanjutkan sekolah mereka”. Dia harus menempuh jarak yang demikian jauh untuk melanjutkan perjuangan hidupnya dan hidup anak-anaknya. Sesekali senyum manisnya
dia sebar penuh harap, mudah-mudahan hari ini jualannya lebih banyak laku dari hari kemarin. Dia kini menggantungkan cita-cita luhurnya untuk anak-anaknya sekaligus menjadi tempat bergantung cita-cita anak-anaknya. Cita-cita mereka untuk melanjutkan sekolah harus mereka gantungkan kepada ibunda tercinta.
Selamat berjuang ibu, semoga kebesaran hati dan kesabaran jiwa selalu mengiringi cita-cita yang lebih luhur dari pada hanya sekedar bercita-cita…

“Jika anda membuat seseorang bahagia hari ini,
anda juga membuat dia berbahagia dua puluh tahun lagi,
saat ia mengenang peristiwa itu”
(Sy
dney Smith)
Pondok Aspul, 20 Januari 2008

0 Responses to “Cita-cita seorang ibu”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




..::Principia::..

elsila

Titik kebahagiaanku bukan terletak pada apa yang aku rasakan, tetapi apa yang mereka rasakan...

..::Kalender::..

Januari 2008
S S R K J S M
« Des   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

..::Arsip Tulisan::..

..::My Favorite Links::..

Ini adalah Link-link Favorit ku, semoga bermanfaat... Selamat menyelami..

-Shaykh Mishary Rasyid Alafasy-

Shaykh Mishary Rashid

-Orang Indonesia-

http://iwanfalsmania.blogspot.com

-Free Programming Tutorials-

free tutorial programming

-Free Software Download-

free software download

..::Tutorial Blog::..

Cara Membuat Blog di WordPress.com

..::Statistik Blog::..

page daily hits

%d blogger menyukai ini: