Dialektika Inaugurasi

Entah siapa yang pertama kali membumi-budayakan istilah itu di tanah ini; INAUGURASI. Istilah yang kian menjelma menjadi sesuatu yang memuakkan, bahkan mendengarnya saja aku ingin muntah. Ironisnya, Inaugurasi menjadi tempat dimana anggota baru Organisasi yang hampir tidak punya identitas ini dikukuhkan. Maka, status warga tersemailah pada diri-diri mereka semenjak itu. Inilah bagian dari proses pengkaderan awal organisasi ini. Pengkaderan…
Teringat beberapa waktu yang telah lalu, saat teman-teman duduk berkumpul sambil minum kopi (sebagian lebih menikmati teh manis) membahas tentang Format Pengkaderan. Teringat akan sebuah pernyataan:
“… arah pengkaderan kita semestinya didasarkan atas kebutuhan Lembaga hari ini…” Aku sepakat! Sangat sepakat! Ketika arah pengkaderan kita tidak lagi selaras dengan kebutuhan ‘kita’ hari ini, masih layakkah kita tetap bersikukuh berdiri pada arah itu? Perlu penjelasan dialogis rasional untuk menjawab pertanyaan itu. Aku hanya ingin mencoba menemukannya dalam dialektika internal ku.
Aku tidak akan terlalu jauh berbicara masalah ini. Aku hanya sedang berpikir, bahwa ternyata kita adalah manusia-manusia pembelajar dalam ranah science. Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Maka, mari kita pelajari arah pengkaderan dari sini.
Inaugurasi; belajar bekerja sama, belajar bertanggung jawab, belajar manajemen waktu, belajar manajemen dana, belajar membaca keadaan, belajar sabar, belajar mandiri, ‘belajar’ egois, ‘belajar’ membohongi, ‘belajar’ menjadi pengecut, ‘belajar’ bolos kuliah, ‘belajar’ munafik, ‘belajar’ berfoya-foya, ‘belajar’ menjadi pemarah, ‘belajar’ skeptis, dan belajar… mungkin ini adalah definisinya. Entah kenapa, aku tetap saja muak dan semakin ingin muntah dengan definisi itu. Lihatlah realitas yang terjadi akibat definisi konyol sejak istilah itu muncul. Kita akan temukan, tidak pernah terjadi korelasi positif antara Inaugurasi dengan kebutuhan Lembaga kita. Jika mereka mengingkarinya dengan alasan proses adalah yang utama, sungguh begitu naïf apologi mereka. Karena yang mereka sebut sebagai proses pengkaderan tidak pernah sama sekali menyentuh wilayah basis keilmuan kita. Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, sekali lagi. Yang ada hanyalah pemaksaan dan pemaksaan, yang akhirnya mengancam terjadinya (memang sudah sering terjadi) miss-identity dan gap-conflict. Aku masih pertanyakan, dimana nilai pengkaderan itu?
Semua proses yang mereka agungkan itu, akhirnya hanya akan dipertontonkan kepada khalayak ramai dan menunggu riuh tepuk tangan. Setelah itu kitapun puas dan bangga. Sampai disitu saja kah nilai kita? Kasihan… identitas kita hilang bersama sorak sorai dan suara peluit para penikmat. Proses – Hasil = ?

Fenomena Tari
Fenomena yang paling aneh yang ingin aku jadikan sampel adalah Tari-tarian. Wow, mahasiswa Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam ternyata cukup lihai dalam hal menari, tidak hanya berkutat seputar rumus-rumus serta istilah-istilah ilmiah. Sekali lagi, Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Ini adalah eksploitasi! ‘Mereka’ dengan (sadar ataupun tidak sadar; sebagian besar) terpaksa melakoni diri menjadi seorang penari. Ini adalah eksploitasi! ‘Mereka’ hanya akan dijadikan bahan teriakan, siulan serta mungkin saja caci maki dari penikmat-penikmat brengsek. Lihat, dimana nilai-nilai itu? Ternyata nilai itu berada pada titik kepuasan dan kebanggaan kita atas penampilan ‘Mereka’ yang dipaksa apik…
Aku hanya bagian kecil dari mereka yang tidak mampu melawan keadaan. Jika dalam kacamata ku aku salah memahami sehingga salah menilai, maka maafkan aku. Aku hanya merasa sakit hati atas kepedihan ‘Mereka’.
Sungguh, hal ini mengganggu aku
Aku sakit hati, aku sakit hati…
Akhirnya, Inaugurasi hari ini tidak lebih dari sebatas proses ‘penguatan identitas’ Lembaga kita yang sudah bobrok. Dan jika benar demikin adanya, apakah penguatan identitas Lembaga harus dan hanya dengan Inaugurasi???

‘Jika pengkaderan adalah sebuah kebutuhan, maka sadarlah kawan-kawan bahwa Inaugurasi telah lenyap sirna dari ranah kebutuhan Lembaga kita hari ini. Inilah inti dari sebuah proses; Kesadaran’
elsila

Pondok Aspul, 30 Maret 2008

0 Responses to “Dialektika Inaugurasi”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




..::Principia::..

elsila

Titik kebahagiaanku bukan terletak pada apa yang aku rasakan, tetapi apa yang mereka rasakan...

..::Kalender::..

April 2008
S S R K J S M
« Mar   Jul »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

..::Arsip Tulisan::..

..::My Favorite Links::..

Ini adalah Link-link Favorit ku, semoga bermanfaat... Selamat menyelami..

-Shaykh Mishary Rasyid Alafasy-

Shaykh Mishary Rashid

-Orang Indonesia-

http://iwanfalsmania.blogspot.com

-Free Programming Tutorials-

free tutorial programming

-Free Software Download-

free software download

..::Tutorial Blog::..

Cara Membuat Blog di WordPress.com

..::Statistik Blog::..

page daily hits

%d blogger menyukai ini: